7 Tanda Orangtua 'Beracun' yang Sering Gak Disadari Siapapun

Gak kejam, tapi bisa 'bunuh' karakter anak

7 Tanda Orangtua 'Beracun' yang Sering Gak Disadari SiapapunPhoto by Tanja Heffner on Unsplash

Line IDN Times

Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi, melindungi dan menyediakan yang terbaik untuk anaknya. Selazimnya begitulah peranan orangtua terhadap anak-anaknya.

Namun, gambaran tersebut gak selamanya ideal. Mungkin tak sekejam ibu dalam novel Dave Pelzer, "A Child Called It," atau tak sampai melukai secara fisik. Tetapi sebagian orangtua menerjemahkan makna "kasih" dan "sayang" dengan cara yang berbeda, yang justru membuat anak-anaknya terluka secara emosi dan mental.

Orangtua seperti ini dikenal dengan sebutan "toxic parents" atau orangtua yang beracun. Seperti apa ciri-cirinya?

1. Mereka gagal memberikan rasa aman dan afirmasi positif.

pexels-photo-568024-a880c0297d7b00727a9dd89d8e259383.jpegpexels.com

Sebagian orangtua percaya, anak-anak harus mandiri dan tidak manja supaya bisa menjaga dirinya sendiri di masa depan. Jika kamu adalah salah satu anak yang dibesarkan dengan cara-cara yang keras dan tegas, tentunya kamu merasakan manfaatnya saat dewasa.

Namun, tegas bukan berarti melepaskan tanggung jawab dalam hal memberikan rasa aman terhadap anak. Ketegasan memang diperlukan, tetapi anak-anak tetap perlu dipeluk saat sedih dan didukung saat mereka merasa terpuruk.

2. Mereka selalu mengkritisi apapun yang dilakukan anaknya.

r0-3-1200-678-w1200-h678-fmax-57360de83f9041b33d424401ab7cfdce.jpgstawelltimes.com.au

Setiap orangtua tentu akan mengkritisi dan memberitahu. Tanpa hal ini, kita gak akan tahu apa yang salah dan apa yang benar.

Tetapi toxic parents terlampau sering mengkritisi apapun yang dilakukan anak-anaknya dan tidak percaya sang anak bisa melakukan dengan benar. Terkadang untuk mengkoreksi tindakan yang salah, toxic parents ini gak segan untuk melakukan kekerasan dan melontarkan kata-kaya kasar.

3. Mereka melontarkan candaan yang tak pantas tentang anaknya.

pexels-photo-194917-c658663d8e0ccf25aa6ac56b0539b7dc.jpegpexels.com

Punya orangtua yang humoris memang menyenangkan. Tetapi, jika anaknya sendiri yang dijadikan bahan olok-olokan apalagi di depan banyak orang, tentunya hal ini gak lagi jadi hal yang lucu. Apalagi sampai tidak menghiraukan hal-hal yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan, atau mengejek mimpi-mimpi sang anak .

Jika orangtuamu suka mengolok-olokmu, dari sisi fisik, hobi, karya atau apapun itu, yang membuatmu merasa buruk, kamu harus berani mengatakan pada mereka bahwa kamu tak nyaman.

Baca Juga: Meinginanmu Sering Ditentang Orangtua? Ini yang Harus Kamu Lakukan

4. Mereka selalu menyalahkan anak-anaknya untuk hal-hal buruk.

pexels-photo-551588-34e254a4c23eabbbe6114931661c26ed.jpegpexels.com

Naik-turunnya keluarga adalah hal yang wajar. Kita gak bisa selalu mengharapkan kehidupan yang baik setiap waktu. Tetapi jika nasib buruk sedang menimpa keluarga, dan orangtua menuding penyebabnya adalah sang anak walaupun bukan itu penyebabnya, bisa dipastikan mereka adalah tipe toxic parents.

5. Mereka tidak memperbolehkan anaknya menunjukkan emosi negatif.

Mereka melarang anak-anaknya untuk marah. Satu-satunya yang boleh marah dan menangis adalah orangtua. Sementara mereka sendiri tak berusaha menunjukkan sisi emosi yang positif.

Padahal, menyalurkan emosi negatif itu diperlukan semua manusia untuk meringankan depresi. Jika hal ini terjadi di masa kecil, tak menutup kemungkinan di saat dewasa sang anak menjadi sulit mengontrol emosi negatifnya dan malah justru berbahaya.

6. Untuk dihormati, mereka ditakuti.

pexels-photo-568027-9cad50ed0fb127fe501898a1893dd24f.jpegpexels.com

Semestinya, wibawa lah yang membuat seseorang dihormati dengan sendirinya. Bukannya menciptakan rasa takut agar dihormati. Banyak orangtua yang berlindung di balik kata 'disiplin'. Nyatanya justru anak-anak menjadi takut dan ketakutan itu yang menjauhkan hubungan orangtua-anak.

Jika ini terus berlanjut, komunikasi yang buruk akan terjadi dan anak-anak tak akan berani menceritakan masalah-masalah mereka kepada orangtua. Hubungan semakin menjauh.

7. Mereka mengungkit-ungkit pembalasan budi.

pexels-photo-328011-a86d78edaeb04c798fa5dc531c43b7c7.jpgpexels.com

Pada anak-anak yang sudah dewasa, toxic parents seringkali mengungkit-ungkit soal balas budi. "Papa sudah susah-susah sekolahin kamu, sekarang kamu harus nurut sama Papa," atau "Mama melahirkan kamu bertaruh nyawa, sekarang kamu tega-teganya meninggalkan Mama kerja di luar kota."

Tidak ada satu pun anak yang berharap dilahirkan dengan menanggung balas budi terhadap apa yang sudah dilakukan orangtuanya. Pembalasan budi yang selalu diungkit-ungkit akan menimbulkan rasa bersalah pada sang anak, walau sang anak sendiri tak pernah memintanya. Situasi ini membuat anak-anak merasa bahwa kebahagiaan orangtua sepenuhnya berada di pundaknya dan akan menghambat langkahnya ke depan.

Mennghindari orang yang beracun dalam hidup kita memang tak mudah, terlebih orang itu adalah orangtua kita. Apalagi jika masalah emosi dan psikis ini terpupuk sejak dini. Jika kamu merasa tidak nyaman, ajaklah bicara orangtuamu sebagai sesama orang dewasa. Jika tak berhasil, mintalah bantuan anggota keluarga yang lain atau psikolog untuk menjadi perantara.

Baca Juga: Jangan Cuma ke Pacar, Lakukan 5 Hal Ini Juga ke Orangtuamu

Read More
Agustin Fatimah
EditorAgustin Fatimah
ARTIKEL REKOMENDASI