Sejarah Jalan Moses Gatutkaca, Jogja: Mahasiswa yang Gugur atas Nama Reformasi

Tangannya menelingkung ke belakang, kepalanya bersimbah darah

Sejarah Jalan Moses Gatutkaca, Jogja: Mahasiswa yang Gugur atas Nama Reformasikumory.blogspot.sg

Line IDN Times

Sebuah jalan di samping Universitas Sanata Dharma ramai dilalui mahasiswa di Yogyakarta. Jalan itu juga menjadi sentra kios-kios penjual ponsel dan warung makan kaki lima. Hampir semua mahasiswa hafal nama jalan yang riuh setiap hari tersebut. Namanya Jalan Moses Gatutkaca.

Namun tak banyak yang tahu siapa dia, mengapa namanya dikenang menjadi nama jalan, dan apa kontribusinya bagi negeri.

Namanya Jalan Moses Gatutkaca, Yogyakarta berawal dari sebuah noda hitam.

moses4-ed97f672ee7d1ebc22425a2aec150c0d.jpgkawankumagz.com

Namanya Moses Gatutkaca. Dia terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, saat era Orde Baru. Ia berasal dari Banjarmasin. Di Kota Gudeg, dia bermukim di Gang Brojolamatan 9A, Mrican. Namanya mungkin tak bakal diabadikan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bila peristiwa kelam pada 1998 tak terjadi.

page-e7c015db023e24bfe1f288fa552d14da.jpgjogjastudent.com

Kala itu, tepatnya pada Mei 1998, Indonesia tengah digoncangkan dengan isu ekonomi, ras, politik, dan sejumlah polemik yang bercampur aduk. Mulanya ialah krisis finansial Asia yang dipicu tragedi Trisakti. Sejumlah mahasiswa di berbagai daerah turun di jalan-jalan di sejumlah kota. Di antaranya Jakarta, Medan, dan Yogyakarta. Mereka menuntut lengsernya rezim Presiden Soeharto yang telah tiga dekade memimpin negeri.

Baca Juga: Makna Kegagalan Sebenarnya yang Cuma Dipahami Orang-orang Hebat. Apa Itu Kamu?

Dan kerusuhan yang tak pernah dibayangkan terjadi di Kota Berhati Nyaman.

moses2-386771b982e84ea87f8921d232e60e4b.jpgusd.ac.id

Jogja berhati nyaman. Tagline itu seakan meranggas pada 5 Mei 1998. Masyarakat turun ke jalan-jalan menuntut sebuah kata: reformasi. Mahasiswa menjadi corong utama, termasuk Moses yang kala itu aktif menuntut hak. Aparat dan mahasiswa bentrok jadi pemandangan yang hampir dikatakan biasa di sebuah kota yang nyaman, waktu itu.

Perusakan, pembakaran, gaduh terjadi dari pagi sampai malam. Tiga hari setelahnya, Jumat, 8 Mei 1998, mahasiswa turun ke jalan. Inilah puncaknya. Pasca-shalat Jumat, 5.000 mahasiswa kumpul di Bunderan UGM. Mereka berdemo, menjadi corong masyarakat menyatakan keprihatinan terhadap bangsa yang tak urung diliput durjana: krisis moneter, harga-harga naik, penjarahan di mana-mana, keadaan menjadi tak stabil.

Tak hanya di Bunderan UGM, demo pun digelar di pelataran kampus Sanata Dharma. Ratusan mahasiswa banyaknya berada di sana. Hari berganti sore. Ratusan mahasiswa itu ingin bergabung bersama rekan-rekan sejawatnya di Bunderan UGM. Namun aparat menghadang. Maksudnya agar suasana tak makin gaduh.

Gagalnya dialog akhirnya menewaskan mahasiswa asal Banjarmasin itu.

moses5-cb4fcdd0f724f432f6b1dad588feb61f.jpgilustrasi - en.wikipedia.org

Tak ada kesepakatan damai. Bukannya saling mundur diri, aparat dan mahasiswa (bersatu dengan masyarakat) akhirnya bentrok. Bom molotov meledak-ledak. Petasan dan batu melayang-layang di udara Mrican. Jalan itu adalah saksi perseteruan aparat pelat merah dan warga sipil.

Sayang, keadaan tak terkontrol. Seorang mahasiswa, yang seharusnya duduk manis di bangku kuliah, menikmati ilmu yang diberikan bapak dan ibu dosen, harus menjadi “tumbal” keadaan. Entah siapa yang bersalah kala itu. Yang jelas, raga Moses ditemukan tergeletak. Tangan pemuda ini menelikung ke belakang, mengenaskan. Kepalanya berlumur darah, luka parah. Pendarahan hebat terjadi, di mulut, di telinga, dan di kepala. Malam yang gaduh menjadi pilu. Pukul 21.55, ia meregang nyawa di sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Panti Rapih.

moses3-19342d7e3715fb02de45759647a8c41a.jpgsantrigaul.net

Tak sampai ditangani tim medis, ruhnya sudah duluan melepaskan diri dari jasad. Namun ambulans tetap meraung, membawanya menuju rumah sakit. Dokter menyatakan ia mengalami retak tulang dasar tengkorak. Seperti dikutip berbagai sumber, kala itu, Pembantu Rektor III Universitas Sanata Dharma G. Sukadi didampingi dosen Y.R. Subakti dan Romo Broto Wiyono, SJ melayat pada pukul 00.15 di rumah sakit. Mereka membenarkan bahwa Moses adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

Suara Moses yang dikenang.

moses1-2482b5200dfb4f90462b41e04ea922b1.jpgdebbynataya.wordpress.com

Bagaimanapun, Moses adalah tokoh yang turut menuntut terjadinya reformasi di negeri. Keberaniannya menyuarakan hak hingga mengorbankan darah patut dikenang. Untuk itu, sejak 20 Mei 1998, Jalan Kolombo diubah nama menjadi Jalan Moses Gatutkaca.

Moses adalah gambaran semangat mahasiswa yang berkobar menuntut perubahan. Tak cuma diam dan tak melakukan apa-apa. Semoga damai, Moses. Sebab kini Indonesia telah menjadi negara yang lebih baik. Paling tidak, rakyat lebih bebas-bertanggung jawab menyuarakan keadilan.

Baca Juga: Gak Peduli Seburuk Apapun Masa Lalumu, Aku Mohon Lakukan 4 Kebaikan Ini demi Masa Depanmu

Read More
ARTIKEL REKOMENDASI