Intan Kemala Sari: Selebgram Kreatif yang Mendobrak Standar Kecantikan

#AkuWanitaHebat

Intan Kemala Sari: Selebgram Kreatif yang Mendobrak Standar Kecantikaninstagram.com/kemalasari

Sudah sejak lahirnya peradaban, kecantikan fisik wanita menjadi obyek dalam ajang kontestasi yang diikuti oleh berbagai kontestan. Yang keluar sebagai pemenang adalah kombinasi kulit putih, badan langsing, tinggi semampai, rambut lurus, alis tebal, bentuk wajah simetris, ukuran mata besar, dan sebagainya yang karena saking spesifiknya hingga sulit dicapai.

Kalau sulit, kenapa harus bersusah payah menggapainya? Ini bukan persoalan"Jika mimpimu tidak membuatmu takut, berarti mimpimu itu tidak cukup besar" seperti kutipan-kutipan yang sering kita lihat di Instagram atau Pinterest.

Tidak bisa dipungkiri, hasilnya adalah diskriminasi terhadap para wanita yang tidak memenuhi standar tersebut.

Itulah yang terjadi pada wanita-wanita berbadan besar yang menurut standar kecantikan tidak masuk dalam kategori cantik. Hanya karena mereka terlahir dengan bentuk tubuh berbeda atau memiliki pemikiran lain tentang definisi kecantikan, tatapan aneh dan menyelidik, perlakuan tidak adil, hingga penghinaan secara verbal menjadi hal-hal yang sering mereka alami.

Semakin hari, banyak wanita sadar bahwa cantik itu bukan selalu langsing. Intan Kemala Sari-lah salah satu "pendobrak" standar kecantikan nenek moyang.

14478290-193949637700541-4179988182512697344-n-f5b837819bb5e41845bd4b902e4e68de.jpginstagram.com/kemalasari

Intan Kemala Sari adalah seorang 'pemberontak'. Sebagai seseorang yang sudah bisa digelari status beken 'selebgram', Intan tidak tunduk pada standar kecantikan yang dirayakan secara besar-besaran oleh ratusan ribu selebram lain.

Dengan akun Instagram @kemalasari Intan mempertunjukkan foto-foto dirinya yang berani. Bukan. Bukan berani dalam artian setengah telanjang ketika bersama pacarnya. Bahkan sangat kontras dari itu -- Intan adalah wanita berjilbab.

Ia berani memberontak aturan tak tertulis bahwa selebgram harus hits karena fisiknya yang hampir sempurna (menurut standar yang berlaku) atau tingkah laku yang mengundang tawa. Dengan ukuran tubuh besar, Intan mencuri perhatian pengguna media sosial Indonesia.

Intan populer dengan foto-foto tentang riasan yang disukainya, pakaian yang dipakainya, dan dalam beberapa kesempatan ada dokumentasi perjalanannya. Seiring dengan popularitasnya yang semakin menanjak, Intan pun menggunakan YouTube sebagai media lain untuk berinteraksi dengan para followers.

Tapi, perjalanan tidak selalu mudah untuk Intan. Kepada IDNtimes wanita berusia 25 tahun ini mengaku bullying merupakan hal yang biasa dihadapi.

"Bullying paling standar yang dulu pernah aku terima adalah dikatain gajah bengkak, babon, badak, karung, bedug musholla, drum minyak, dan lain-lain. Tapi, aku sudah bisa terima itu."

14359383-196584364097918-7185436112469360640-n-c6a7fe8542370332be156f3fe3fbfd8f.jpginstagram.com/kemalasari

Meski sudah bukan rahasia, tapi tetap saja pengakuan Intan tersebut mengejutkan. Bagaimana mungkin hinaan macam itu boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal? Jika wanita berkulit putih, bertubuh tinggi, berbadan langsing layak mendapat pujian cantik, lantas apakah secara otomatis wanita yang tidak seperti itu pantas menerima komentar-komentar negatif?

Intan juga mengaku masih banyak orang-orang di sekitarnya yang mengaitkan ukuran tubuhnya dengan perhatian pria melalui komentar-komentar seperti, "Kamu gendut banget sih! Nanti cowok nggak ada yang mau deketin, lho!".

Sadar atau tidak, komentar seperti itu adalah salah satu alasan kenapa banyak wanita sampai setengah mati mengejar standar kecantikan tertentu: agar mendapat perhatian pria.

Baca Juga: Dian Sastro Aja Butuh Berjuang Buat Jadi Wanita Hebat, Masa Iya Kita Diam Saja?

Sebagai wanita 'pemberontak', Intan menganggap ukuran tubuh bukan segalanya. Dia menawarkan alternatif bahwa kecerdasan dan prestasi adalah faktor yang lebih penting.

13706986-1093129654099679-1383110096-n-a430df08420ff0300e5f5d07917bfcfb.jpginstagram.com/kemalasari

Dalam setiap revolusi, ide alternatif yang menantang status quo adalah sebuah hal mutlak. Intan pun mengaku bahwa manusia tidak seharusnya dilihat hanya dari bentuk serta ukuran tubuhnya, melainkan prestasi dan kecerdasannya.

"Kalau berprestasi, orang jadi segan sama kita dan belajar untuk lebih menghargai kita, serta yang lebih penting adalah tidak akan menerima bullying," ujarnya kepada IDNtimes.

Wanita berusia 25 tahun ini terus membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan kemampuan lain. Intan adalah seorang jurnalis di sebuah media besar di Indonesia.

13707034-507421849456088-1615462207-n-2aee204ac21e38c6029f2ab55ee41ab9.jpginstagram.com/kemalasari

Sebagai jurnalis, pengetahuan adalah senjata mematikan. Dia pun tidak puas hanya bisa berbahasa Inggris. Intan terus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan Koreanya. Itu adalah cara yang dipilihnya untuk selalu fokus pada hal-hal positif.

Wanita-wanita bertubuh besar harus bekerja berkali-kali lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat. Untuk itu juga Intan menjadi bagian dari gerakan Celebrate Your Body.

Gerakan ini meyakini karena wanita terlahir dengan bentuk tubuh berbeda-beda, maka setiap bentuk itu cantik. "Aku sadar kalau memang nggak ada yang harus ditutupi dari badanku karena memang semua orang diciptakan berbeda-beda", tambahnya.

Media punya andil dalam mengukuhkan atau menghancurkan status quo dari standar kecantikan wanita.

13249694-1080999021938587-408870696-n-8f5d395d385971b8036a0df4c00a413e.jpginstagram.com/kemalasari

Ketika ditanya oleh IDNtimes apa dan bagaimana peran media dalam hal standar kecantikan wanita, Intan menjawab bahwa andil media sangat besar. "Tapi kembali lagi, mungkin setiap media punya standar kecantikannya masing-masing."

Ini berkaitan dengan peran media yang seringkali bertindak sebagai kepanjangan tangan dari industri busana dan periklanan sehingga bagaimana media memotret wanita menjadi hal yang cukup vital dalam mempengaruhi standar kecantikan fisik.

Misalnya adalah istilah Plus Size Woman yang disematkan industri fashion untuk wanita-wanita yang tidak memiliki bentuk tubuh seperti Kendall Jenner atau Gigi Hadid. Media turut serta dalam memperkenalkan istilah itu kepada masyarakat.

Secara pribadi, Intan tidak menyetujui penggunaan istilah tersebut. "Fashion has no size. Semua orang, mulai dari yang kurus banget sampai yang besar banget berhak tampil stylish sesuai dengan gaya berbusana masing-masing. Sayangnya, yang ada malah fashion jadi 'dikotak-kotakkan' dari segi ukuran."

Berdasarkan pengalamannya, Intan menuturkan bahwa sangat sulit mencari pakaian-pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang juga trendy dari sisi gaya. "Kalaupun ada, biasanya standar banget (modelnya)," lanjutnya.

Intan ingin agar wanita bertubuh besar tidak menjadikan bentuk tubuhnya sebagai halangan dan semakin percaya diri untuk menunjukkan prestasi.

14504740-1705191396470714-2930483776930709504-n-1350afa9942159a0644fc8bc48813e61.jpginstagram.com/kemalasari

"Aku ingin wanita Plus Size bisa lebih berprestasi dan menunjukkan bakat mereka, bukan cuma jadi observer yang malah bikin diri mereka jadi minder", tegasnya saat ditanya tentang aspirasinya untuk wanita-wanita bertubuh besar.

Intan juga menjelaskan bahwa dirinya dan wanita-wanita yang mengalami persoalan serupa di masyarakat hanya ingin lebih dihargai dan diperlakukan sama seperti orang-orang bertubuh 'normal' lainnya.

Intan pun mengutip Lillian Bustle, seorang penari Burlesque, yang berkata bahwa,"Masyarakat telah mengubah kata 'gendut' sebagai sinonim dari 'jelek', tapi bukan itu artinya gendut. Gendut berarti gendut." Ini adalah sindiran pada standar ganda yang berlaku di masyarakat bahwa langsing itu cantik, sedangkan gendut itu jelek.

Dia juga berharap media mulai membuka diri terhadap keberadaan wanita-wanita bertubuh besar dan semakin sering memberitakan mereka yang meski dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk bullying, tapi tetap berusaha memberi inspirasi bagi orang lain.

Kami pun berharap semoga semakin banyak wanita-wanita 'pemberontak' lain seperti Intan yang berani mendobrak status quo di berbagai bidang dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.


Percayalah, kamu juga salah satu wanita hebat versi dirimu sendiri. Namun kamu sering tak menyadarinya. Setiap wanita istimewa dan berdaya. Saatnya kamu angkat bicara dan ceritakan kisah inspiratifmu pada dunia. Upload fotomu dan bagikan ceritamu di media sosial ya. Jangan lupa gunakan hashtag #AkuWanitaHebat

Baca Juga: Terbukti! Ini 11 Alasan Kenapa Pria Lebih Memilih Perempuan Cerdas

Read More
Line IDN Times
ARTIKEL REKOMENDASI